Street Art, disadari maupun tidak, lebih sering diperbincangan dalam kaitannya dengan isu perkotaan, ataupun sebagai kegiatan anak muda semata. Sebaliknya, pewacanaan street art sebagai budaya visual sangat jarang dilakukan. Oleh karena itu, pada diskusi Indonesian Street Art Database yang ke-3 ini, kita diambil tema yang lebih kurang melihat street art dalam posisinya sebagai budaya visual, dari sudut pandang seni rupa, dengan pembicara Ade Darmawan.
Karya-karya street art pada umumnya menempati ruang-ruang publik di suatu tempat tertentu. Dalam dunia seni rupa, telah kita kenal sejak tahun 60-an terdapat jenis seni yang lebih kurang menempati tempat yang sama:public art. Namun, dalam perkembangannya, street art tidak begitu identik dengan perkembangan seni rupa pada umumnya. Bahkan, mereka memiliki kecenderungan yang lebih erat dengan perkembangan seni musik, sebagai salah satu elemen hip-hop pada masa itu (dalam kasus graffiti di Amerika).
Dengan menempati ruang-ruang publik ini, sudah seharusnya para street artist memiliki kesadaran yang berbeda dengan apa yang dilakukan pelukis, misalnya. Mereka –street artists– semestinya tidak memandang tembok hanya sebagai kanvas kosong. Juga menempatkan publik sebagai objek pasif. Justru sebaliknya, street artist seharusnya memiliki kesadaran menempatkan publik sebagai subjek. Dengan juga menyadari tembok-tembok itu memiliki sejarahnya sendiri, memiliki konteks ruang yang berbeda-beda, tidak bisa disamakan dengan sebuah kanvas kosong yang membebaskan kita berekspresi tanpa batasan di dalamnya. Kepekaan terhadap ruang sangat diperlukan, karena keindahan dalam street art tidak melulu dilihat dari gambaran karya yang dihadirkan, lebih dari itu: mereka harus kontekstual.
Praktik street art di Indonesia sendiri, terlepas dari profesionalitas para pelakunya, harus diakui telah mencapai tingkatan sebagai culture, bukan hanya sebagai sub-culture. Indikasinya jelas bahwa street art di Indonesia bisa dikatakan telah dilembagakan, buku-buku yang membahas street art banyak di cetak, pun penelitian mengenainya tak jarang dilakukan serta terdapat beberapa tempat pengarsipan meliputi tingkat daerah dan nasional. Berbeda misalnya dengan stiker-stiker motor ataupun lukisan truk, contohnya, setiap karya street art bahkan memiliki nama pelaku yang jelas. Street art masih lebih banyak diwacanakan, dari sini kita bisa melihat adanya pertukaran pengetahuan di dalamnya, sebagai sebuah ilmu.
Rekaman Audio Diskusi Berkala Indonesian Street Art Database Ke-dua 29 Feb 2012
Tema: Street Art: Ekspresi Politis, Pencarian Jati Diri Anak Muda dan Kuasa Pasar Pembicara: Dr. Doreen Lee
(Asisten profesor di Departemen Antropologi Northeastern University, Amerika Serikat. Penelitiannya di Indonesia mencakup tema politik, sejarah, budaya visual dan globalisasi) Waktu: Rabu, 29 Februari 2012, pukul 15.00-17.00 WIB Tempat: Indonesian Street Art Database,
Jl. Bambu Ampel III No. D. 15 A
Komplek Paminda, Pasar Minggu
Jakarta Selatan Kontak: 021-7800 035
Rangkuman Diskusi
Jika kita melihat suasana di jalanan di kota Jakarta, akan terlihat sangat tidak teratur, memiliki kesan bahwa kota ini ramai dan ada upaya untuk mengisi ruang kota dengan urban play. Sejarah urban di Indonesia, terutama setelah krisis ekonomi 1997, banyak sekali proyek-proyek pemerintah yang belum selesai di Jakarta seperti halnya monorail. Ini menjadi peluang buat seniman untuk berkarya di tempat-tempat seperti itu, menambahkan sesuatu. Contoh urban play yang memanfaatkan kerusakan kota Jakarta sebagai gagasan penciptaannya ialah karya video Irwan Ahmett dan Tita Salina berjudul Urban Play.
Banyak asumsi tentang pelaku street art di Jakarta adalah para siswa SMA, sebagian besar coretan-coretan di Jakarta merupakan tulisan nama sekolah. Ada kesan umum bahwa ini merupakan fenomena tidak penting, tidak memiliki nilai budaya. Namun jika kita melihat lebih jauh lagi, ternyata sangat beragam, mulai dari kalangan menengah ke atas, dosen, pelajar, dll.
Dalam konteks street art, hal yang membedakan kasus antara di Indonesia dengan barat diantaranya ialah, di barat ada kesan marjinal, geng, minoritas, masyarakat tertindas. Di indonesia cenderung tidak seperti itu, meskipun ada kesan pemberontakan yang sengaja diciptakan street artists di Indonesia.
Metodologi Public Culture
Public culture sebagai konsep mencakupi isu-isu ruang publik dan kehidupan sehari-hari. Salah satu kutipan yang terkenal mengenai hal ini ialah: “Space is a practice place”. Dikemukakan oleh Thus de Certeau. Secara sederhana bisa diartikan bahwa ruang, termasuk ruang publik, terbentuk dari rutinitas keseharian. Ada efek-efek material dan virtual yang berdampak pada ruang publik. Pada tahun 80-an, diikrarkan manifesto public culture oleh Arjun Appadurai dan Carol Breckenridge yang inti dari manifesto itu ialah: Publik mendeskripsikan bentuk-bentuk budaya yang dapat dirasaakan oleh seluruh masyarakat, bukan hanya golongan menengah ke atas, elit, atau masyarakat popoler, tetapi semuanya. Mendeskripsikan imajinasi baru yang dihasilkan oleh globalisasi.
Street Art dan Pasar
Pasar untuk street art di Indonesia sangat luas, mereka mulai menciptakan pasar sendiri dan bisa disebut ‘alternative market’ seperti membuka lapak sendiri dengan pembeli yang beragam. Jika kita melihat street art hanya sebagai pengaruh budaya barat dari internet, sebenarnya ada estetika lokal seperti pada tulisan-tulisan tambal ban, cucian motor, bahkan coretan-coretan dinding yang setidaknya membuat kita mengkaji lebih jauh fenomena tersebut.
Secara keseluruhan, kesimpulan dari diskusi ini ialah bahwa ruang publik di Indonesia, terutama di Jakarta, merupakan hasil dari negosiasi, sangat informal, bukan sepenuhnya milik pemerintah. Meskipun tidak keseluruhan, namun pada umumnya anak muda hanya melihat ruang publik sebagai kanvas, kemudian mereka menggambarnya, dan mengunggah gambar ke sosial media. Evolusinya hanya seputar itu. Kota ialah cermainan dari saya.
–Asep Topan, 2012
Diskusi Berkala Indonesian Street Art Database Tema: Street Art: Ekspresi Politis, Pencarian Jati Diri Anak Muda dan Kuasa Pasar Pembicara: Dr. Doreen Lee
(Asisten profesor di Departemen Antropologi Northeastern University, Amerika Serikat. Penelitiannya di Indonesia mencakup tema politik, sejarah, budaya visual dan globalisasi) Waktu: Rabu, 29 Februari 2012, pukul 15.00-17.00 WIB Tempat: Indonesian Street Art Database,
Jl. Bambu Ampel III No. D. 15 A
Komplek Paminda, Pasar Minggu
Jakarta Selatan Kontak: 021-7800 035
Tema : Street Art dan Kehidupan Sosial Politik di Ruang Kota
Pembicara : Jemi Irwansyah
(Pemerhati Street Art, Pengajar Politik Perkotaan di Universitas Indonesia)
Hari/Tanggal : Minggu, 15 Januari 2012
Pukul : 15:00 – 17:00
Tempat : Indonesian Street Art Database
Jalan Bambu Ampel III No. D15A, Komplek Paminda
Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Diskusi Berkala Perdana Indonesian Street Art Database
Tema : Street Art dan Kehidupan Sosial Politik di Ruang Kota Pembicara : Jemi Irwansyah
(Pemerhati Street Art, Pengajar Politik Perkotaan di Universitas Indonesia) Hari/Tanggal : Minggu, 15 Januari 2012 Pukul : 15:00 – 17:00 Tempat : Indonesian Street Art Database
Jalan Bambu Ampel III No. D15A, Komplek Paminda
Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Indonesian Street Art Database (ISAD) adalah sebuah lembaga nirlaba yang bekerja untuk mendorong kemajuan street art di Indonesia melalui: pengarsipan dan pendokumentasian karya maupun aktivitas street art; mengkaji dan mewacanakan street art melalui riset, penulisan, diskusi, seminar dan festival; perluasan jaringan street art baik di Indonesia maupun luar negeri; dan penciptaan karya street art yang berbasis riset. Indonesian Street Art Database terbuka untuk publik, baik peneliti, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang memiliki ketertarikan untuk memajukan street art Indonesia.
Untuk sementara, website resmi Indonesian Street Art Database ini belum bisa diakses secara penuh, berhubungan dengan proses pengembangan yang masih berjalan untuk mencari bentuk dan tampilan yang paling ideal. Silahkan ikuti perkembangan terkini Indonesian Street Art Database melalui akun twitter dan facebook resmi kami.